Avatar
Hello Guest!
0
Lola Amaria Garap Film Tentang Pancasila

WARTA KOTA, PALMERAH-Lola Amaria (40) kembali ke lokasi syuting film.

Setelah film Labuan Hati yang digarapnya 2017 di sebagian tempat-tempat indah dan eksotis di Nusa Tenggara Barat, termasuk Pulau Komodo, Lola kini sedang bersiap menggarap film terbarunya berjudul LIMA.

Kali ini Lola tidak sendiri berkarya.

Lola, yang juga akan menyutradarai LIMA, mengajak empat sutradara film lainnya, yakni Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo, serta melibatkan dua penulis skenario film ternama yang berkolaborasi, yakni Titien Wattimena alias Tinut dan Sekar Ayu Massie.

“Kenapa sutradara film LIMA harus lima? Supaya filmnya beragam, meski (saya) bisa menyutradarai film ini sendiri,” kata Lola berbincang di Restoran Le Seminyak, Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2018) siang. Saat itu Lola ditemani empat sutradara film LIMA.

Lewat lima sutradara yang bekerja di satu film yang sama, Lola juga ingin filmnya menjadi karya terbaik, sekaligus mencoba hal baru biar penonton senang filmnya berwarna dan tidak flat.

“Film LIMA ini juga bukan omnibus (banyak cerita dalam satu film), tapi ceritanya utuh,” kata Lola.

LIMA adalah film cerita utuh tentang Pancasila, bukan visualisasi ideologi bangsa ini yang penuh adegan heroik.

Sebaliknya, LIMA dibuat sebagai film keluarga yang berjuang menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Masing-masing sila itu mempunyai cerita sendiri dan dikawal sutradara yang berbeda yang mewakili masing-masing sila, tetapi masih dalam satu jalan cerita besar,” jelas Lola yang pernah menggarap film Minggu Pagi di Victoria Park, Negeri Tanpa Telinga dan Jingga.

Shalahuddin yang sebelumnya membuat film-film dokumenter seperti Negeri Dibawah Kabut dan Nokas, diminta sebagai sutradara di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa.

Sementara Tika yang sebelumnya lebih sering menjadi sutradara video klip, iklan komersil dan film pendek Sanubari Jakarta ini diminta sebagai sutradara sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Harvan yang pernah meraih berbagai penghargaan internasional untuk film pendeknya yang berjudul Pangreh ini akan mengawal sila keempat Pancasila, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksaan Dalam Permusyawaratan, Perwakilan.

Adriyanto yang menjadi sutradara sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, pernah meraih penghargaan Piala Citra FFI sebagai sutradara terbaik untuk film Tabula Rasa.

Sementara salah satu bintang film LIMA adalah Prisia Nasution yang pernah meraih Piala Citra FFI sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Sang Penari, Yoga Pratama yang menjadi pemeran pembantu di Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, dan Tri Yudiman yang berakting di film Toba Dreams, Sabtu Bersama Bapak dan Bunda.

Sebelum menjadi skenario film, Lola kerap bertemu dan melakukan konsultasi bersama Yudi Latief yang dikenal ahli tentang Pancasila sebagai salah satu riset.

Hal itu dilakukan Lola supaya penggarapan film LIMA tidak salah arah.

“Pak Yudi setuju bahwa Pancasila itu tidak hanya dihafal, tapi juga dilakukan dalam kehi dupan sehari-hari,” kata Lola.

Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2018/01/30/lola-amaria-garap-film-tentang-pancasila

Skip to toolbar